Apa Itu Citra Raster?
Raster adalah jenis gambar digital yang merepresentasikan gambar sebagai susunan titik-titik atau matriks. Tiap titik disebut pixel sebagai elemen terkecil yang menyusun gambar. Citra digital bitmap (citra bitmap) secara teknis sering disebut sebagai raster images. Citra digital jenis ini tersusun atas titik-titik yang disebut piksel (pixel). Manipulasi pada citra bitmap adalah manipulasi yang dilakukan pada tingkat piksel. Citra bitmap banyak digunakan pada media elektronik yang berbasis pada warna yang kontinyu atau citra dengan gradasi warna, misalnya dalam dunia fotografi digital ataupun menggambar digital. Citra bitmap adalah citra digital yang resolution-dependent, artinya citra yang bergantung pada resolusi. Resolusi adalah jumlah piksel persatuan luas, misalnya 72 piksel/inci yang merupakan ukuran standar dari citra bitmap.
Sebuah citra bitmap tersusun atas piksel-piksel yang posisinya tertentu dengan nilai kedalaman warna tertentu. Jika resolusi piksel terlalu rendah maka citra bitmap tampak bergerigi. Dalam dunia komputer grafis, citra bitmap murni ditulis dengan ekstension bmp (*.bmp), misal pemandangan.bmp. Pada gambar hitam-putih, pixel hanya bisa berwarna hitam atau putih. Sedangkan pada gambar berwarna, tiap-tiap pixel memiliki warna.
Apa Itu Citra Vektor?
Sebuah citra digital yang berbasis vektor (citra vektor/vector image) merupakan kumpulan garis dan kurva yang didefinisikan oleh persamaan matematika yang disebut vektor-vektor (vectors). Karena citra vektor tersusun dari vektor-vektor, maka citra tersebut dapat dimanipulasi tanpa kehilangan kualitas. Citra vektor merupakan jenis citra yang resolution-independent, artinya citra yang tidak bergantung pada resolusi. Citra jenis ini dapat diperbesar dan dicetak tanpa kehilangan kualitasnya. Namun citra vektor memerlukan banyak perhitungan matematika dalam proses.Pada gambar yang berjenis vektor, gambar didefinisikan dalam bentuk data informasi. Jadi gini, misalkan ada file gambar segitiga, maka datanya kira-kira seperti ini:
- koordinat tiap-tiap titik yang membentuk segitiga
- informasi garisnya, yaitu warna, ketebalan, jenis (garis solid, garis putus-putus)
- warna segitiga (warna solid, warna gradasi)
Jadi misalnya di sebelah gambar segitiga ada gambar lingkaran, maka ada data objek kedua berisi informasi koordinat pusat dari lingkaran, serta diameter, jenis garis dan warna. Seperti itulah gambaran data dalam gambar vektor. Jadi bentuk-bentuk geometris, shape, titik-titik, ataupun kurva, bisa dirangkai menjadi bentuk yang kompleks.
Format vektor jenis ini sangat mudah untuk diedit. Misalnya desainer yang menggambar logo bisa dengan mudah merubah warna bagian tertentu, merubah shapenya, membengkokkan garis, dan lainnya. Dan dengan karakteristik seperti ini, format vektor cocok untuk gambar yang non realistis/ non foto. Umumnya untuk pembuatan logo, layout, ilustrasi, infografis, peta, kartun dan lainnya.
Contoh lain penerapan vektor yang umum adalah font. Font modern di komputer berbasis data vektor. Jadi misalnya anda mengetik di Microsoft Word menggunakan font arial, ukuran font bisa diubah-ubah sekehendak hati tanpa kehilangan kualitasnya.
Jadi kalau gambar vektor, mau dicetak di kartu nama kecil, ukuran A4, bahkan ukuran spanduk segede gaban juga gambar atau teksnya tetap tajam dan mulus.
Bedanya raster dan vektor ketika di zoom
Bila ada gambar vektor dan raster, dengan dimensi yang sama, ketika diperbesar, barulah kelihatan bedanya. Raster akan terlihat susunan pixel-pixelnya. Sedangkan vektor, sama sekali tidak kehilangan kualitasnya.
Raster jika dizoom akan terlihat pixel kotak-kotak nya.Jadi cukup jelas kan dari definisi raster dan vektor diatas. Kita bisa simpulkan bahwa raster cocok untuk gambar detail rumit seperti foto atau painting. Sedangkan vektor cocok untuk logo, icon, ilustrasi, yang disusun dari shape-shape. Perbedaan paling jelas adalah ketika diperbesar.
Catatan: Ketika raster diperbesar, sebenarnya tidak selalu mengakibatkan efek kotak-kotak jaggy seperti contoh diatas. Ini karena seringkali software modern merender ulang gambar tersebut dengan menerapkan filter smoothing, demi mempertahankan kehalusannya. Hasilnya seperti efek blurry. Tapi tetap jelek dan tidak ideal.
Ukuran File Raster dan File Vektor
Seperti udah dibahas tadi, ukuran file raster akan membesar seiring dengan membesarnya ukuran gambar. Hitung-hitungan kasar aja, misalnya suatu gambar disimpan dalam format raster tertentu. Karena gambar ini berwarna, maka tiap titik pixelnya juga berwarna yang dibentuk dari gabungan tiga warna dasar R (red), G (green), B (blue). Jika masing-masing elemen warna berukuran 8 bit, artinya secara digital, 1 elemen warna bisa mencakup 256 kemungkinan atau variasi.
Hal ini mirip dengan teknologi display/layar. Tiap pixel di layar terdiri dari 3 lampu R, G, B. Nilai 0 artinya mati, nilai 255 artinya menyala penuh. Misal suatu pixel bernilai R=255, G=0, B=0, maka lampu led berwarna merah akan menyala full, lampu hijau dan biru mati. Misal bernilai R=255, G=128, B=128, maka lampu merah menyala full, lampu hijau dan biru menyala 50%, dan akan menghasilkan warna pink. Kalau contoh gambar di bawah, warna oranye muda adalah gabungan dari R= 251, G= 176 dan B= 59.
256 x 256 x 256 = 16,78 juta warna. Itulah jumlah warna berbeda yang bisa dimiliki tiap 1 pixel. Karena 1 pixel berupa data RGB, yang tiap elemen warna 8 bit, maka 1 pixel 8×3 = 24bit = 3 byte. Anggap ada foto 18 megapixel, dari namanya berarti ada 18 juta pixel. Ketika dibuka ternyata ukuran gambarnya 5184 x 3456px, jadi secara teknis 17.9 megapixel, atau dibulatkan menjadi 18 megapixel (pembulatan seperti ini sudah umum, termasuk ukuran storage seperti flashdisk, harddisk). Kemudian dikalikan 3 byte per pixel = 53.7 megabyte. Wow untuk 1 foto butuh segitu gedenya? Yup. Jika foto disimpan sesuai rumus kasar diatas. Bahkan harusnya lebih, karena ada data-data tambahan atau metadata.
Ukuran file vektor karena sifatnya yang resolution-independent, maka tidak tergantung dimensi, maka walau diperbesar berapa kali lipat pun, ukurannya pun tetap sama (atau tidak berbeda jauh). Misalnya gambar ukuran 100x100px bisa diperbesar dua kali lipat menjadi 200x200px. Wajar saja, karena yang berubah kira-kira hanya data dimensi atau kordinat saja. Ketika di-zoom pun, pada dasarnya tinggal dirender ulang pake skala yang baru.
Apa Itu Watermarking?
Abad ke-13 Tahun 1282 pabrik kertas di Fabriano, Italia membuat kertas yang diberi watermark dengan menekan bentuk cetakan gambar pada kertas (Cox et al. 2002) yang baru setengah jadi. Ketika kertas dikeringkan terbentuklah suatu kertas yang ber-watermark. Kertas ini biasa digunakan oleh seniman/sastrawan untuk mengidentifikasi karya seni milik mereka. Teknologi watermarking muncul pada tahun 1990 dan tahun 1993 oleh Andrew Tirkel et al. (1992) "Electronic Watermark" DICTA 93, Macquarie University, p.666-673 mulai menggunakan kata watermark dalam paper-nya. Teknologi watermarking merupakan suatu solusi didalam melindungi hak cipta kepemilikan terhadap data-data digital yang akhir-akhir ini dikembangkan para peneliti, yang memiliki sifat-sifat invisibility dan robustness yang dapat diatur serta data yang terwatermark dapat dipublikasikan layaknya data digital.
Digital watermarking didasarkan pada ilmu steganografi, yaitu ilmu yang mengkaji tentang penyembunyian data. Teknik ini mengambil keuntungan dari keterbatasan indra manusia, khususnya penglihatan dan pendengaran, sehingga watermark yang dibutuhkan pada dokumen tidak akan disadari kehadirannya oleh manusia. Digital watermarking dikembangkan sebagai salah satu jawaban untuk menentukan keabsahan pencipta atau pendistribusian suatu data digital dan integritas suatu data digital. Teknik watermarking bekerja dengan menyisipkan sedikit informasi yang menunjukan kepemilikan, tujuan, dan data lain pada media digital tanpa mempengaruhi kualitasnya.
Watermarking sebenarnya berkaitan dengan steganografi, tetapi digunakan dalam konteks dan cara pandang yang berbeda. Secara literatur, kata Steganografi berasal dari Yunani yaitu Steganographia, yang berarti tulisan tersembunyi (covered writing) Steganografi adalah ilmu dan seni menyembunyikan pesan rahasia (hidding message) sedemikian sehingga keberadaan pesan tidak terdeteksi oleh manusia (Munir 2004). Baik watermarking maupun steganografi digunakan untuk menyembunyikan informasi atau memindahkan informasi ke dalam suatu media cover. Beberapa aplikasi watermarking antara lain, Broadcast Monitoring, Owner Identification, Proof of Ownership, Authentication, Fingerpriting, Copy control, dan Covert Communication. Teknik-teknik watermarking untuk citra digital yang telah dikembangkan, misalnya LSB, Amplitude Modulation, Patchwork, Spread Spectrum dan lain-lain. Persyaratan umum watermarking harus imperceptible, robustness dan secure.
Jenis Watermarking:
- Watermarking Gambar (citra: Gambar JPEG/GIF/BMNP/TIFF)
- Penandaan Air Video (video MPEG)
- Tanda Air Audio (audio MP3/WAV)
- Teks Watermarking (Dokumen Ms. Word, PDF)
Menurut Kipper (2004) Tujuan Penggunaan Watermarking:
- Fragile Watermarking: untuk menjaga integritas/orisinalitas media digital. Watermark serentan mungkin atau rusak apabila terjadi manipulasi pada media penyisipan.
- Robust Watermarking: untuk menyisipkan informasi kepemilikan media digital dan watermark sekuat mungkin bertahan atau terdeteksi apabila terjadi manipulasi pada media penyisispan.
- Visible Watermarking: watermark yang terlihat pada media. Media akan mengalami perubahan tampilan setelah penyisipan.
- Invisible Watermarking: watermark yang tidak terlihat pada media. Media tidak akan mengalami perubahan tampilan secara signifikan setelah penyisipan.
- Blind detectors: cara pengambilan watermark yang tidak membutuhkan berkas asli untuk mendeteksi keberadaan watermark disebut Public Watermarking Systems.
- Informed detectors: cara pengambilan watermark yang harus mengetahui berkas asli untuk mendeteksi keberadaan watermark disebut Private Watermarking System.
- Memberi label kepemilikan (ownership) karya digital
- Melindungi konten karya digital (copyright)
- Memeriksa integritas isi karya digital (tamper proofing): data authentification
- Otentikasi pengguna /sidik jari
- Aplikasi medis
- Komunikasi rahasia
- Perlindungan pembajakan
- Metode Spasial/ Spasial Domain: Additive Wtermarking, Least Significant Bit (LSB), Patchwork Technique dan T exture Mapping Coding.
- Metode Transform/ Domain Frekuensi: Discrete Cosine Transform (DCT), Discrete Wavelet Transform (DWT), Lifting Wavelet Transform, Discrete Fourier Transform (DFT), Discrete Hadammard Transform , Singular Value Decomposition (SVD).
- Berdasarkan simulasi yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu : Penyisipan watermark terhadap citra host taylor.jpg memiliki PSNR paling tinggi yaitu 94.2046 dB saat proses ekstraksi watermark menggunakan nilai α yang sama dan masih mengabaikan attack.
- Metode DWT-SVD lebih tahan terhadap attack dibandingkan dengan metode DWT.
- Proses penyisipan watermark dengan Arnold transform menghasilkan PSNR lebih tinggi dibandingkan tanpa Arnold transform, dimana dengan Arnold transform PSNR = 85.7959 dB, dan tanpa Arnold transform PSNR = 85.3901 dB.
- Semakin rendah PSNR maka semakin tinggi nilai similarity factor (SF) dan semakin jelas watermark-nya.
- Semakin besar nilai α yang digunakan pada saat penyisipan watermark maka semakin rendah nilai PSNR yang diperoleh.
- Saat nilai PSNR tetap, semakin tinggi nilai α maka SF akan semakin mendekati satu.
- Penggunaan Arnold transform tidak selalu memperbaiki hasil ekstraksi watermark, tetapi dengan menggunakan Arnold transform nilai SF-nya cenderung lebih tinggi atau lebih mendekati satu.
- Penggunaan Arnold transform dapat mengenkripsi watermark sehingga lebih tahan terhadap attack dan watermark dapat diekstraksi kembali.
- Alfatwa, D, F., 2007. Watermarking Pada Citra Digital Dengan Menggunakan Discrete Wavelet Transform. Skripsi S-1, Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung, Bandung.
- Basaruddin, T., et al. 2006. Penyisipan Tanda Air Pada Citra Dijital Berbasis Dekomposisi Nilai Singular (DNS). Skripsi S-1, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia, Depok.
- Chaturvedi, Navnidhi dkk. 2012. Analisis Image Watermarking dengan DWT dan Performance Under Attacks. Jurnal Internasional Teknologi Komputer dan Elektronika.
- Engineering (IJCTEE), Vol.2, Issue.3, Juni. Kamble, Sushila dkk. 2012. Watermarking Citra Robust Berbasis DWT-SVD Menggunakan Peta Arnold. Jurnal Internasional Teknologi Informasi dan Manajemen Pengetahuan , Vol.5, No.1, hal 101-105, Januari-Juni.
- Jemi, A. 2007. Penerapan Watermarking Untuk Penyisipan Hak Cipta Pada Citra Digital Dengan Metode COX. Institut Pertanian Bogor.
- Maretha Ruswiansari dkk . 2016. Implementasi Discrete Wavelet Transform (DWT) dan Singular Value Decompsition (SVD) pada Image Watermarking .
- Munir, Rinaldi. 2006. Diktat Kuliah IF5054 Kriptografi. Bandung : Institut Teknologi Bandung.
- Simanjuntak AC et al. 2015. Watermarking Citra Digital Pada Ruang Warna YUV Dengan Kombinasi Metoe DWT dan SVD.Universitas Diponegoro.
- Shanti, V. dan Thangavelu, A., “DWT-SVD Combined Full Band Robust Watermarking Technique For Color Images in YUV Color Space”, International Journal of Computer Theory and Engineering, Vol. 1 No. 4, Oktober 2009.
- Tyas, L, A., 2011. Watermarking Citra Digital Berbasis DWT dan SVD dengan Detektor Non-Blind. Skripsi S-1, Program Studi Teknik Informatika. Universitas Diponegoro, Semarang.
- Zhou, Yaxun dkk . 2012. Skema Multi-watermarking Citra Digital yang Kuat di Domain DWT. Konferensi Internasional tentang Sistem dan Informatika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar